hai hai hai.... ini cerpen Wardah loh..... (eeaa...)
Salahkah?
Aku juga bisa
cemburu...
Aku juga ingin
seperti mereka...
Sampai
saat ini, hanya satu orang yang peduli denganku. Kurasa. Dan yang paling
kucinta. Pasti. Entahlah, apa ini diperbolehkan. Tapi, memang hanya dia
satu-satunya. Aza.
Sudah
setahun lamanya, Aza sering menghabiskan waktunya bersamaku. Sudah setahun aku
suka wajah ovalnya, rambut cepaknya, mata coklatnya, parfum yang dipakainya,
tingkahnya, bahkan apa yang ia tuliskan di diarynya. Sudah setahun pula akau
merasakan hal ini, cinta darinya. Atau mungkin cinta yang tumbuh karena
keberadaannya. Sekali lagi kuungkapkan pertanyaan ini. Salahkah?
1 Agustus
Para
panitia disibukkan oleh diadakannya MOS bagi siswa-siswi baru mulai hari ini.
Seperti biasa, setiap istirahat seperti sekarang ini Aza masih disini
bersamaku. Aku memperhatikan para siswa baru yang berlari-lari, push up,
bending, serta melakukan hal-hal lain yang diperintahkan oleh senior
mereka, teman-teman Aza sendiri. Ya, Aza yang sekarang sudah menginjak kelas 2
SMA ini memang tidak pernah mau menghabiskan waktunya untuk hal-hal seperti
merasa senior di depan juniornya. Mungkin, memang dia lebih suka menghabiskan
waktu luangnya disini, bersamaku.
J
8 Agustus
“Sa...
Sasa...”. suara tiupun langsung seketika membuyarkan lamunan gadis cantik
berkuit putih ini. Suara sepatu pemanggilnya pun terdengar berketuk-ketuk
semakin mendekat di lantai koridor kelas. “Ternyata kamu di udah di kelas” ucap
seorang gadis tinggi berwajah indo. Seperti dugaannya, memang tidak lain
Alya lah pemilik suara itu.
“Kenapa
sih Al, gangguin lamunan indah aku aja... paling-paling juga mau kasih penemuan
senior ganteng lagi...”. Alya dan Sasa memang baru hari ini resmi memakai
seragam putih abu-abu baru mereka. Namun, memang sudah jadi hobi baru Alya
untuk menulusuri seluruh sudut kelas untuk melaksanakan misinya tersebut.
Memburu senior ganteng.
“Tapi
yang ini beda,Sa... dia itu cool tingkat dewa. Tinggi, manly, cowok
banget deh pokoknya. Dan kamu nggak bakalan percaya kalo dia ini aku temuin di
pohon kodondong samping kelas. Namanya itu...”. belum selesai Alya berbicara,
langsung dipotong oleh Sasa.
“Azhar
Arsyadan, biasa dipanggil kak Aza, kelas XI IPA 2, rambutnya cepak ala-ala
Jacob nyasar ke Indonesia, sukanya nongkrong di atas pohon kedondong samping
kelas”. Alya hanya bisa terdiam dengan mata melotot menyadari kalau sahabatnya
ini bahkan tahu lebih dulu darinya.
J
7 Agustus
Hari
ini hari terakhir MOS. Inilah puncak dimana para siswa-siswi baru makin diuji
fisik maupun mental mereka. Entahlah, mungkin itu yang dikataan paa panitia MOS
kali ini. Namun, di hari ini juga aku merasa sangat kesal.
“Maaf,
kak... kakak bisa turun sebentar nggak?”. Teriak salah seorang gadis yang aku
tahu merupakan salah seorang dari peserta MOS. “Siapa lu? Panggil gue?” Sahut
Aza sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke dirinya sendiri. “Iya, kak... Kakak
yang disana nyuruh aku ngobrol sama Kakak, aku juga suruh minta foto” Balasnya.
Aza pun mengusirnya dengan berbagai alasan. Nggak punya waktu lah, banyak
urusan lah, untuk kembali duduk bersamaku. Setidaknya itulah yang kupikrkan.
Tapi
ternyata gadis itu berhasil membujuk Aza untuk menghampirinya. Kuakui, gadis
itu memang cantik dan supel. Tapi, kenapa Aza-ku harus menanggapinya?. Aku
tidak ingin Aza punya teman orang lain selain aku.
J
8 Agustus
“Ciee,,, yang mau pulang sama kak Aza, aku
juga mau dong...”. rengek Alya. “dih, apa banget sih kamu” jawab Sasa singkat.
Diapun langsung bersiap-siap untuk menaiki motor Kawasaki Ninja berwarna hijau
yang semakin mendeka. Aza langsung menarik rem motornya dan membiarkan Sasa
naik. Alya pun melambaikan tangannya ke Sasa dan langsung melesat dengan
motornya sendiri. Sebelum Aza sampai menarik gas motornya Sasa bertanya.
“Kak
Aza kok sering manjat pohon kedondog samping kelas sih... kak Aza juga suka
kedondong kaya aku ya...”. tanya Sasa halus. “Ya enggak sih. Aku Cuma suka
pohonnya, bukan buahnya. Asik aja buat baca buku,dengerin musik, ngapain aja
deh”jelas Aza. Mereka pun langsung berlalu setelah itu.
J
Rasanya
sakit melihat Aza pulang dengan orang lain. Apalagi seorang gadis. Belum lagi
kejadian kemarin. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa berdiri disini memandangi
kejadian itu. Aku takkan membiarkan ini berlangsung lama. Lihat saja!.
9 Agustus
Aku
menjulurkan salah satu tanganku ke arah jendela kelas gadis itu. Berdasarkan
yang kudengar kemarin ia sangat suka kedondong. Kujulurkan buah kedondongku
yang paling besar dari ranting-rantingku.yah, berharap gadis itu akan
memanjatku dan jatuh terpeleset atap asbes yang licin terkena air hujan pagi
ini. Pasti untuk mencapai buah kedondongku dia akan menginjak atap asbes licin
itu. Dan aku tahu pasti atap asbes itu sudah tua dan takkan cukup kuat untuk
menahan berat badannya. Hihi, semoga saja rencanaku berjalan lancar.
“Eh, kedondongnya udah berbuah, jadi pengen. Tapi gimana
ngambilnya, ya?”teriak gadis itu bersemangat. Kulihat dia sangat tertarik.
Pasti rencanaku berhasil. Ayo, panjat aku, dan kau akan terjatuh. Teriak hatiku
gembira.
Tapi, aku merasakan sesuatu merayapi tubuhku. Gadis itu masih
berdiri disana, lalu siapa ini. Siapa yang memanjatiku sekarang. Tidak mungkin.
Tidak mungkin. ”Aaaaaaarrghhh.........”.
J
“Kalo aku ambilin kedondong yang gede di pohon tempat nongkrong aku
itu, pasti Sasa seneng, deh...”gumam Aza bersemangat. Akhirnya, dia pun memutuskan
menuju ke pohon tersebut untuk mengambilkan kedondong untuk Sasa. Aza sudah
ratusan bahkan ribuan kali memanjat pohon kedonodng ini. Bagaimana tidak,
setiap waktu luangnya ia habiskan dengan duduk diatas pohon ini.
Aza pun memanjat pohon kedondong tersebut, lalu menginjak atap
asbes yang ternyata sangat licin sehingga Aza terpeleset dan
“Aaaaaaaaaarggghh”. Aza pun terjatuh lalu disusul dengan darah
segar yang mengucur dari kepalanya yang terbentur.
J
“Mama, Kakak, dedek pulang.....”. Suara itupun seketika memenuhi
seisi rumah yang adinya senyap. “Sa, kamu anterin makan ke kamar Kakak,
ya...”perintah Mama. Sasa pun dengan sigap mengambil nampan makanan dari tangan
Mama dan langsung menuju kamar Kakak tercintanya.
“Kakak, inimakan siangnya. Oh ya, tadi dapet salam dari Alya.
Termen aku yang disuruh ngobrol sama Kakak waktu MOS ituloh...”terang Sasa.
“Kakak nggak apa-apa, kan?”lanjut Sasa lirih saat melihat setitik ai mata
mengalir di pelupuk mata kakaknya.
Aza pun hanya tersenyum dan bergumam lirih, “Aku lumpuh”.
J
Aza, apa yang telah kuperbuat. Aku sama sekali tak membuatmu
menjadi kembali dekat dan semakin dekat denganku. Apa yang kulakukan sangatlah
bodoh. Sekali lagi kukatakan padamu, aku tak membuat Aza-ku kembali dekat dan
semakin dekat denganku. Aku hanya membuatnya kembali jauh dan semakin jauh
dariku. Saking jauhnya, apalah menghabiskan waktu denganku, melirikku pun
kujamin Aza takkan sudi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar