Suku
Asmat
Suku Asmat adalah nama dari
sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada
di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup
dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen
/ motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan
patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek
moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai
disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu
atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa
nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir
kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual
untuk mengenang arwah para leluhurnya.
1.
Tempat Tinggal
Wilayah yang mereka tinggali sangat unik.Dataran coklat
lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai.Wilayah yang ditinggali Suku
Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7
Kecamatan atau Distrik.Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3000-4000
milimeter/tahun.Setiap hari juga pasang surut laut masuk kewilayah ini,sehingga
tidak mengherankan kalau permukaan tanah sangat lembek dan berlumpur.Jalan
hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk diatas tanah yang lembek.Praktis
tidak semua kendaraan bermotor bisa lewat jalan ini.Orang yang berjalan harus
berhati-hati agar tidak terpeleset,terutama saat hujan.
2.
Persebaran serta
kampung Asmat
Suku asmat tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai
laut arafuru dan pegunungan jayawijaya, dengan medan yang lumayan berat
mengingat daerah yang ditempati adalah hutan belantara, dalam kehidupan suku
Asmat, batu yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi
mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu
disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga
sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk
membuat kapak, palu, dan sebagainya.
Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup
di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah
keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah
keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan
dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia.
Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.
3.
Agama
Suku
Asmat adalah suku yang menganut Animisme, sampai dengan masuknya para
Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain
agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam
agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.
4.
Kepercayaan Dasar
Adat
istiadat suku Asmat mengakui dirinya sebagai anak dewa yang berasal dari dunia
mistik atau gaib yang lokasinya berada di mana mentari tenggelam setiap sore
hari. Mereka yakin bila nenek moyangnya pada jaman dulu melakukan pendaratan di
bumi di daerah pegunungan. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di
wilayahnya terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik,
jahat dan yang jahat namun mati. Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam
di Teluk Flamingo, dewa itu bernama Fumuripitis. Orang Asmat yakin bahwa di
lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi
dalam 3 golongan.
- Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
- Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
- Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan
orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh
komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang
seperti berikut ini :
- Mbismbu (pembuat tiang)
- Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
- Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
- Yamasy pokumbu (upacara perisai)
- Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku
ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan
mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan.
Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup
membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta
topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
5.
Roh-roh dan Kekuatan
Magis
- Roh setan
Kehidupan
orang-orang Asmat sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka memiliki
kepercayaan bahawa alam ini didiami oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk
halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2
kategori :
1.
Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh
orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang.
Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di
pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
2.
Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh
masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa
seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang
Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu
berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
- Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang
Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah
dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan
kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu,
penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan
magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang
curian atau pun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang
mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin,
halilintar, hujan, dan topan.
6.
Wanita Dalam
Pandangan Suku Asmat
Simbolisasi
perempuan dengan Flora & Fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat
(pohon/kayu,kuskus,anjing,burung kakatua dan nuri,serta bakung),seperti kata
Asmat diatas,menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan
perempuan yang sangat berharga bagi mereka.Hal ini tersirat juga dalam berbagai
seni ukiran dan pahatan mereka.Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran
pahatan dan ukiran Asmat.Tersembunyi suatu realita derita para Ibu dan gadis
Asmat yang tak terdengar dari dunia luar.
Derita
perempuan Asmat menjadi pelakon tunggal dalam menghidupi suku tersebut.Setiap
harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya,mulai
dari mencari ikan,udang,kepiting,dan tembelo sampai kepada mencari pohon sagu
yang tua,menebang pohon sagu,menokok,membawa sagu dari hutan,memasak dan
menyajikan.Setelah itu mencuci tempat makanan atau tempat masak termaksud
mengambil air dari telaga atau sungai yang jernih untuk keperluan minum
keluarga.
Sementara
itu kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang
disediakan istrinya,mengisap tembakau,dan berjudi.Kadang suami membuat rumah
atau perahu,namun dengan batuan istri.Ada pula suami yang mau menemani istrinya
mencari kayu bakar.Sayangnya mereka hanya benar-benar menemani.Mendayung
perahu,menebang kayu,dan membawanya pulang adalah tugas istri.Suami yang cukup
berbaik hati akan membantu membawakan kapak istrinya.
Jika
istri tidak menyiapkan permintaan suaminya seperti sagu atau ikan,maka istri
akan menjadi korban luapan kemarahan.Jika mereka kalah judi,maka istri pula
yang akan dijadikan obyek kekesalan.Mereka yang tinggal di Agats,kini terbiasa
pula untuk mabuk,mereka lebih rentan untuk mengamuk,sehingga istripun yang akan
lebih banyak menerima tindak kekerasan.
Kadangkala
laki-laki Asmat mengukir,jika mereka ingin tau atau jika hendak
menyelenggarakan pesta.Ketika laki-laki mengukir,maka tugas perempuan akan
semakin bertambah.Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain
yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir.Semakin
lama laki-laki mengukir,semakin banyak pula makanan yang harus mereka
sediakan.Hal itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat,karena harus memangur,meramah,dan
mengolah sagu,dan bahkan menjaring ikan,lebih tragisnya lagi,jika ukiran itu
dijual,maka uangnya hanya untuk suami yang membuatnya,perempuan Asmat tidak
menerima imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa
makanan itu,satu ukiranpun tidak akan selesai dibuat.(Dewi Linggasari,2004,Yang
Perkasa Yang Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat.Yogyakarta : Bigraf
Publishing,bekerjasama dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan The Fourt
Foundation.Hal.22).
7.
Pertentangan
Ada
banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah
cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh,
mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh
penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan
memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan
dimakan. Namun hal ini sudah jarang terjadi bahkan hilang resmi dari ingatan.
8.
Upacara Adat
Ritual/
Upacara suku Asmat yaitu
- Ritual Kematian
Orang
Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi
mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh,
maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang
kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang
biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu
ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan
duka cita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku
Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua
atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan
magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan
dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka
membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano,
tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an,
para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama
anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa
kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan
anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila
ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit
sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada
usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga
terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan
´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah
dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah.
Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi.
Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah
mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar
rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk
utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran
pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan
cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan
lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan
menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan
wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat
orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang
telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang
belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala
diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang
meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal
tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu
diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter.
Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan
perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan
seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat
ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan
beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki
dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan
menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka
jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa
nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan
kuburannya.
- Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap
5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses
pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah
pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya,
batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat
pegangan untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan.
Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh
membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya
bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan
bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk
menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya.
Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu.
Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang
berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan
berjalan seimbang dan lancar.
Perahu
pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah
berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah
meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu
dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih
dahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul
di rumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta
sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke
rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para
pendayung menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu
burung. Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan
memeriahkan suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang
telah meninggal.
Dulu,
pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan
pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat
musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar
siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan
bahan makanan.
- Upacara Bis
Upacara
bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab
berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaan dalam
suatu keluarga. Dulu, upacara bis ini diadakan untuk memperingati anggota
keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan
membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk
membuat patung leleuhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang
lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang)
dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan
memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi
tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk
mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu,
seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara
perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara
perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini,
wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti
hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka
upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila
hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini
disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan
terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung
bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu
berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis.
Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung
bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada
saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam
telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal
itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga
yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis
ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.
- Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang
Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah
bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini
dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah
bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang
bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila ada
suatu penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita
dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk
rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan
rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan
tari-tarian dan penabuhan tifa.
Thanks
to : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Asmat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar