Rabu, 24 September 2014

Kegiatan          : Resensi buku
Tujuan             : Tugas bahasa Indoneia
Oleh                 : Wardah Hani Nurul Izza (X-5)
Guru                : Pak Kusen
Ø  Identitas Buku 
Judul buku         : Harry Potter and The Chamber of Secrets (Harry Potter
                            Dan Kamar Rahasia)                    
Penulis             : J.K. Rowling
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan kedua)
Tebal               : 424 halaman
Ukuran                        : 16 x 20 cm
Tempat terbit   : Jakarta
Tahun Terbit    : 2008
J.K. Rowling, atau Jo, begitu ia menyebut dirinya. Siapa yang tidak mengenal penulis wanita yang satu ini. Novel Harry Potter yang terlahir di Kereta Manchaster-London ini telah membawanya menuju kesuksesan yang besar. Single parent ini ternyata telah memulai menulis cerita-cerita fantasinya sejak berumur 6 tahun. Kisah Harry Potter ini tentunya tidak serta merta menuai kesuksesan. Ia mengalami kepedihan yang bertubi-tubi sepeninggal ibunya dalam menulis kisah Harry Potter ini. Berkali-kali kisah Harry Potternya ditolak oleh penerbit. Namun, ternyata kesabaran dan kegigihan Jo menuai keberhasilan. Pada bulan Agustus 1996 novelnya pun diterbitkan. Novel Harry Potter terjual hingga 400 juta kopi.
Kisah Harry Potternya pun menjadi semakin booming setelah WarnerBross memutuskan untuk memfilmkan buku seri pertama Harry Potter. Sampai saat ini tujuh novel seri Harry Potter telah diflmkan.  
Secara keseluruhan, buku yang bertemakan perjuangan tiga sahabat ini dapat dibilang lebih menarik daripada buku sebelumnya. Ceritanya lebih kompleks dan pertambahan tokoh yang membuat pembaca semakin penasaran. Novel ini sangat cocok dibaca oleh seluruh kalangan dan segala umur. Namun, apabila dibaca oleh penggemar Harry Potter di masa sekarang, ceritanya menjadi tidak lebih seru daripada novel Harry Potter seri keempat, kelima, keenam dan ketujuhnya. Dan juga karena memang merupakan novel terjemahan, bahasa yang digunakan novel ini masih sangat kaku.


Ø  Sinopsis:
Pada liburan musim panas kali ini, Harry Potter masih harus menghabiskannya bersama keluarga Dursley yang sangat ia benci. Saat liburan musim panas ini, ia dikagetkan dengan munculnya seorang peri rumah bernama Dobby yang selalu menghalang-halanginya kembali ke Hogwarts pada tahun keduanya. Ia melakukan berbagai macam cara agar Harry Potter tidak kembali ke Hogwarts. Karena Dobby tahu bahwa akan ada kejadian besar yang mengancam nyawa Harry apabila ia kembali ke Hogwarts. Pertama, Dobby menumpahkan kue tart ke sepupu Dursley. Kedua, Dobby menutup platform 9 ¾ yang digunakan sebagai pintu masuk ke Hogwarts. Ketiga, dan yang paling berbahaya adalah ketika Dobby menyihir bola Bludger untuk mengejar Harry saat pertandingan Quidditch Gryffindor melawan Slytherin.
Namun, ternyata apa yang dikatakan oleh Dobby memang benar. Muncul kejadian-kejadian aneh di Hogwarts. Selain kedatangan guru baru yang bernama Gilderoy Lokchart yang sangat menjengkelkan dan hantu di toilet anak perempua Myrtle merana yang sangat genit, banyak siswa dan siswi yang dibekukan. Hermione pun termasuk. Pelakunya tidak diketahui. Awalnya Harry berpikiran bahwa Draco Malfoylah pelakunya. Namun ternyata bukan Draco pelakunya. Pelakunya adalah Tom Rieddle yang telah membuka kamar rahasia 50 tahun sebelumnya. Ia muncul kembali melalui buku hariannya yang dengan sengaja diselundupkan oleh seseorang yang tak bertanggungjawab. Tom juga telah berhasil membawa seorang  siswi kedalam kamar rahasia yang tak lain dan tak bukan adalah adik perempuan Ron yang bernama Ginny.
Namun Harry Potter yang juga Parselmouth (dapat berbahasa ular)  seperti   Tom, bersama dengan bantuan Ron, Flakes (burung Phoenix milik Dumbledore), dan pedang Godric Gryffindor akhirnya dapat mengalahkan Basilisk, yaitu ular raksasa yang dikendalikan Tom untuk membekukan siswa-siswi Hogwarts yang berdarah lumpur (bukan keturunan murni penyihir).  Akhirnya suasana pun menjadi pulih seperti semula dan siswa-siswi yang dibekukan dapat disembuhkan dengan bantuan ramuan Mandrake.
Ø  Kelebihan buku :
1.      Dapat dibaca oleh semua kalangan dan segala umur
2.      Bahasanya yang mudah dipahami
3.      Kisahnya yang menunjukkan bahwa kuatnya persahabatan, perjuangan, dan pantang menyerah ternyata dapat menyelesaikan semua masalah
Ø  Kekurangan buku :
1.      Susah mengimajinasikan tokoh-tokoh didalamnya apabila belum membaca serial pertamanya atau menonton filmnya
2.      Sampul buku kurang menarik

3.      Bahasa yang digunakan masih kaku

Selasa, 23 September 2014

Thailand



THAILAND
Kerajaan Thailand (Muang Thai) adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kampuchea ( Kamboja) di Timur, Malaysia dan Teluk Siam di Selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di Barat. Secara astronomis, negara ini terletak antara 6°LU - 20°LU dan 98°BT - 116°BT.
Thailand dulu dikenal dengan nama Siam, sampai saat ini nama Siam masih digunakan di kalangan orang Thai, terutama kaum minoritas Tionghoa. Thailand juga sering disebut Negeri Gajah Putih, karena gajah putih merupakan binatang yang dianggap keramat oleh masyarakat Thailand sendiri.
Thailand memiliki variasi wilayah geografis yang berbeda. Di sebelah Utara, keadaannya bergunung-gunung dan titik tertingginya berada di Doi Inthanon (2.576 m). Sebelah Timur Laut terdiri atas hamparan Plato Khorat yang dibatasi oleh Sungai Mekong. Wilayah Tengah didominasi Lembah Sungai Chao Phraya yang hampir seluruhnya datar dan mengalir ke Teluk Thailand. Di sebelah Selatan terdapat Tanah Genting Kra yang melebar ke Semenanjung Melayu.
*      Nama resmi : Raja-anachakra Thai atau Prath–t Thai
*      Ibukota : Bangkok
*      Luas wilayah : ± 512.820 km²
*      Jumlah penduduk : 62.354.402 (2002)
*      Kepadatan : ± 121 jiwa/km²
*      Mata uang : Bath
*      Bahasa : Thailand (bahasa resmi) dan Inggris
*      Lagu kebangsaan : Phleng Chat
*      Kemerdekaan : (tidak mengalami penjajahan)

1.    Ras di Thailand
Dominan ras di Thailand adalah ras Asian Mongoloid dengan ciri fisik : · Berkulit kuning
sampai sawo matang, Rambut berwarna hitam lurus, Mata sipit, memiliki tubuh yang lebih pendek dan lebih kecil dari ras kaukasoid, dan memiliki bulu badan sedikit. Sedangkan ada juga yang lain, yaitu di daerah pedalaman yaitu ras melanosoid.
2.    Suku (Etnis) di Thailand
Mayoritas :
a.       Thai : Menurut para anthropolog suku Thai berasal dari Cina selatan. Beberapa teori sangat bervariasi beranggapan bahwa orang Thai berasal dari Thailand, mungkin karena terdapat kesamaan nama, antara Thai dan 'Thai' land. Suku Thai biasanya dikategorikan dengan warna, seperti Thai Merah, Thai Hitam dan Thai Putih. Suku Thai merupakan populasi yang paling banyak.
b.       Shan : Suku Shan tinggal terutama di negara bagian Shan di Myanmar (dulu Burma), dan di daerah-daerah yang bertetangga dengannya di Tiongkok, Thailand, Kamboja dan Vietnam.
c.       Lao : Suku Lao merupakan suku asli Laos. Suku Lao juga memiliki klan-klan atau marga-marga.
d.       Melayu : Yaitu sebuah kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, Sumatra bagian timur, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir termasuk Brunei, Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini - yang secara kolektif dikenal sebagai Alam Melayu. Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma dan Thailand.
e.       Tionghoa : (ejaan Hokkien dari kata Hanzi Sederhana: ; Hanzi Tradisional: 中華; pinyin: zhonghua) atau Huaren ((Tionghoa)) atau Bangsa Tionghoa. Seperti yang kita ketahui, masyarakat Tionghoa atau masyarakat Cina memang banyak tersebar di Asia maupun benua lain, termasuk di Thailand. Menurut sumber dikatakan bahwa populasinya mencapai 14%.
f.        Khmer : merupakan kelompok etnis asli Kamboja. Faktor yang membuat suku khmer banyak ditemukan di Thailand adalah mungkin karena keduanya merupakan negara tetangga, sehingga sangat memungkinkan untuk bermigrasi.
Yang lain :

·         Akha  
·         Bru 
·         Cham 
·         Chaozhou
·         Hakka 
·         Chong 
·         Hmong 
·         Karen  
·         Khmer 
·         Khmu 
·         Kuy 
·         Lahu 
·         Lanna (Northern Thai) 
·         Akha  
·         Bru 
·         Cham 
·         Chaozhou
·         Hakka 
·         Chong 
·         Hmong 
·         Karen  
·         Khmer 
·         Khmu 
·         Kuy 
·         Lahu 
·         Lanna (Northern Thai) 
·         So 
·         Thai Selatan 
·         Tai Dam (Black Tai) 
·         Tai Nüa 
·         Urak Lawoi 
·         Vietnamese 
·         Yao/ Iu Mien 
·         Kawalaka 



3.    Agama di Thailand
Mayoritas masyarakat Thailand merupakan penganut agama Buddha aliran Theravada (95%), Islam (4%), sisanya Kristen dan Hindu.
4.    Profesi di Thailand
Kemajemukan profesi di Thailand pasti tidaklah jauh beda dengan kemajemukan profei di negara kebanyakan. Semua menjalankan tugas serta peran masing-masing. Mungkin pengklasifikasiannya dapat dipermudah dengan mengikuti sektor-sektor  yang berjalan di Thailand. Seperti dalam sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan yang di dalamnya terdapat petani, pengelola kebun, pengusaha beras, gandum, peternak dan lain-lain. Dalam sektor Industri yang di dalamnya terdapat pegawai pabrik, direktur, manajer, serta pemilik saham, dll. Dalam sektor pelayanan jasa dan keuangan yang didalamnya terdapat pegawai bank, dokter, supir, dll. Dan satu lagi adalah yang bergerak di bidang politik pemerintahan, yang terdiri dari pegawai parlemen, pemimpin pemerintahan. Karena Thailand merupakan negara yang berbentuk kerajaan, maka negaranya dipimpin oleh seorang raja dan pemerintahannya dimpimpin oleh perdana menteri.
5.    Jenis Kelamin
Kemajemukan jenis kelamin ada laki-laki dan perempuan. Namun di Thailand, transgender dianggap wajar, dan biaya transgender di Thailand tergolong murah.

Thanks To :

Suku Asmat



Suku Asmat
    Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.
1.       Tempat Tinggal
Wilayah yang mereka tinggali sangat unik.Dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai.Wilayah yang ditinggali Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik.Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3000-4000 milimeter/tahun.Setiap hari juga pasang surut laut masuk kewilayah ini,sehingga tidak mengherankan kalau permukaan tanah sangat lembek dan berlumpur.Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk diatas tanah yang lembek.Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa lewat jalan ini.Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset,terutama saat hujan.
2.       Persebaran serta kampung Asmat
Suku asmat tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai laut arafuru dan pegunungan jayawijaya, dengan medan yang lumayan berat mengingat daerah yang ditempati adalah hutan belantara, dalam kehidupan suku Asmat, batu yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.
Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.
3.       Agama
Suku Asmat adalah suku yang menganut Animisme, sampai dengan masuknya para Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.
4.       Kepercayaan Dasar
Adat istiadat suku Asmat mengakui dirinya sebagai anak dewa yang berasal dari dunia mistik atau gaib yang lokasinya berada di mana mentari tenggelam setiap sore hari. Mereka yakin bila nenek moyangnya pada jaman dulu melakukan pendaratan di bumi di daerah pegunungan. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang jahat namun mati. Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam di Teluk Flamingo, dewa itu bernama Fumuripitis. Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
  • Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
  • Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
  • Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini :
  • Mbismbu (pembuat tiang)
  • Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
  • Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
  • Yamasy pokumbu (upacara perisai)
  • Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
5.       Roh-roh dan Kekuatan Magis
  • Roh setan
Kehidupan orang-orang Asmat sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka memiliki kepercayaan bahawa alam ini didiami oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2 kategori :
1. Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
2. Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
  • Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu, penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang curian atau pun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin, halilintar, hujan, dan topan.
6.       Wanita Dalam Pandangan Suku Asmat
Simbolisasi perempuan dengan Flora & Fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat (pohon/kayu,kuskus,anjing,burung kakatua dan nuri,serta bakung),seperti kata Asmat diatas,menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan perempuan yang sangat berharga bagi mereka.Hal ini tersirat juga dalam berbagai seni ukiran dan pahatan mereka.Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran pahatan dan ukiran Asmat.Tersembunyi suatu realita derita para Ibu dan gadis Asmat yang tak terdengar dari dunia luar.
Derita perempuan Asmat menjadi pelakon tunggal dalam menghidupi suku tersebut.Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya,mulai dari mencari ikan,udang,kepiting,dan tembelo sampai kepada mencari pohon sagu yang tua,menebang pohon sagu,menokok,membawa sagu dari hutan,memasak dan menyajikan.Setelah itu mencuci tempat makanan atau tempat masak termaksud mengambil air dari telaga atau sungai yang jernih untuk keperluan minum keluarga.
Sementara itu kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang disediakan istrinya,mengisap tembakau,dan berjudi.Kadang suami membuat rumah atau perahu,namun dengan batuan istri.Ada pula suami yang mau menemani istrinya mencari kayu bakar.Sayangnya mereka hanya benar-benar menemani.Mendayung perahu,menebang kayu,dan membawanya pulang adalah tugas istri.Suami yang cukup berbaik hati akan membantu membawakan kapak istrinya.
Jika istri tidak menyiapkan permintaan suaminya seperti sagu atau ikan,maka istri akan menjadi korban luapan kemarahan.Jika mereka kalah judi,maka istri pula yang akan dijadikan obyek kekesalan.Mereka yang tinggal di Agats,kini terbiasa pula untuk mabuk,mereka lebih rentan untuk mengamuk,sehingga istripun yang akan lebih banyak menerima tindak kekerasan.
Kadangkala laki-laki Asmat mengukir,jika mereka ingin tau atau jika hendak menyelenggarakan pesta.Ketika laki-laki mengukir,maka tugas perempuan akan semakin bertambah.Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir.Semakin lama laki-laki mengukir,semakin banyak pula makanan yang harus mereka sediakan.Hal itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat,karena harus memangur,meramah,dan mengolah sagu,dan bahkan menjaring ikan,lebih tragisnya lagi,jika ukiran itu dijual,maka uangnya hanya untuk suami yang membuatnya,perempuan Asmat tidak menerima imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa makanan itu,satu ukiranpun tidak akan selesai dibuat.(Dewi Linggasari,2004,Yang Perkasa Yang Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat.Yogyakarta : Bigraf Publishing,bekerjasama dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan The Fourt Foundation.Hal.22).
7.       Pertentangan
Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan. Namun hal ini sudah jarang terjadi bahkan hilang resmi dari ingatan.
8.       Upacara Adat
Ritual/ Upacara suku Asmat yaitu
  • Ritual Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.
  • Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.
  • Upacara Bis
Upacara bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaan dalam suatu keluarga. Dulu, upacara bis ini diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung leleuhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.
  • Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila ada suatu penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa.