Selasa, 28 Oktober 2014

Kegiatan          : Menulis Resensi Film
Tujuan             : Tugas Bahasa Indonesia
Oleh                : Wardah Hani Nurul Izza
Guru                : Eka Retnosari

MODUS ANOMALI ;

FILM KARYA ANAK BANGSA YANG MENGUKIR PRESTASI

*      Identitas Buku :
Judul Film       : Modus Anomali
Pemain                        : Rio Dewanto, Hannah Al-Rasyid, Marsha    Timothy, Surya Saputra, Izzati                                          Amara, Aridh Tritama, Sadha Triyudha
Sutradara          Joko Anwar
Produser          : Sheila Timothy
Narator            : Joko Anwar
Rumah Produksi: Lifelike Pictures
Tanggal Rilis   :  26 April 2012
Negara             : Indonesia
Bahasa             : Inggris
Durasi              : 88 menit
Genre               : Thriller
Biaya Produksi            : 1,8 Miliar

Modus Anomali merupakan film keempat garapan sutradara ternama Joko Anwar, setelah Janji Joni (2005), Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009). Film Modus Anomali yang berarti kejiwaan yang aneh atau terganggu menyuguhkan sebuah cerita thriller psikologi yang dibumbui dengan penggambaran yang sangat nyata karena kameramen tidak menggunakan rel, tetapi ikut berjalan dan berlari, serta suara yang digunakan terdengar nyata karena suaranya benar-benar asli rekaman dari tempat kejadian.
Film ini disajikan apik, karena sangat membuat kesal para penontonnya di awal namun membuat tekesan di akhir. Film ini telah mengukir prestasi besar Penghargaan Bucheon Award dalam ajang Network of Asian Film Festival (NAFF). NAFF sendiri merupakan bagian dari Puchon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan. Pencapaian 'Modus Anomali' tidak lepas dari tangan Joko Anwar. Prestasi  ini bukanlah yang pertama bagi seorang Joko Anwar. Sebelumnya sutradara berusia 35 tahun ini juga pernah mendapat penghargaan tertinggi sebagai film terbaik dalam ajang Puchon International Fantastic Film Festival lewat filmnya yang berjudul 'Pintu Terlarang' pada 2009.
Film Modus Anomali diambil dengan latar full di sebuah hutan. film ini diambil di Gunung Nimpuno yang berada di daerah Sentul, Bogor. Joko Anwar sendiri merupakan seorang karakter yang misterius dan suli ditebak. Joko Anwar lahir pada tanggal 3 Januari 1976 di sebuah kawasan perkampungan miskin di Medan, Sumatera Utara di mana tumbuh besar dengan menonton film-film kung fu dan horror. Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, dia juga telah menulis dan menyutradarai pertunjukan drama. Joko kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung untuk belajar Aerospace Engineering karena orang tuanya tidak sanggup menyekolahkannya ke sekolah film. Setelah lulus kuliah pada tahun 1999, dia kemudian menjadi wartawan di The Jakarta Post sebelum kemudian menjadi seorang kritikus film. Ia telah aktif dalam bidang perfilman Indonesia sejak tahun 2003.
Film ini bercerita tentang seorang lelaki bernama John, yang kehilangan keluarganya saat berlibur di sebuah hutan. John bangun menemukan tubuhnya terkubur dalam pasir di tengah hutan tanpa ingan sedikit pun apa-apa tentang diinya sendiri. Termasuk namanya sekalipun. Tapi, setelah ia berjalan dan mencari petunjuk siapakah dirinya, perlahan-lahan ia mengerti. Ia mengetahui namanya adalah John, lalu ia sadar bahwa ia adalah seorang ayah dari dua anaknya dan seorang suami dari seorang wanita cantik yang diperankan oleh Hannah Al-Rasyid. Mengetahui  istrinya telah dibunuh, iapun berjalan menyusuru hutan dengan rasa takut karena ia merasa dikejar oleh seorang pembunuh misterius. Saat melihat part ini, penonton akan merasa bosan karena hanya diperlihatkan adegan John berjalan panik mencari anaknya dengan kamera yang bergerak-gerak dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya karena merasa terancam oleh pembunuh misterius tersebut, akhirnya John menyiapkan sebuah jebakan mematikan yang pasti akan membunuh siapapun apabila mengenainya. Namun, ternyata jebakan tersebut malah mengenai anak perempuan yang ia kenali adalah anaknya sendiri. Iapun semakin marah dengan pembunuh misterius itu. Lalu ia kembali mengasah golok panjangnya, dan kembali membunuh seorang anak laki-laki yang ia kenali sebagai anaknya yang lain. Lalu, sebenarnya siapakah pembunuh misterius itu? Apakah ia penyebab terbunuhnya wanita yang John kenali sebagai istri tercintanya, dan terbunuhnya kedua anaknya? Dan pertanyaan terakhir adalah, siapakah John sebenarnya? Kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut setelah kita menonton film ini secara penuh.
Film ini baik untuk ditonton oleh penikmat film thriller apalagi dibumbui dengan unsur psikopat di dalamnya. Film ini juga bisa menjadi salah satu sampel bahwa film Indonesia sudah bisa lebih maju dan modern. Film ini membuat penasaran penontonnya karena Joko Anwar sangat pelit dalam penggunaan percakapan di dalamnya. Modus Anomali dibuat dalam bahasa inggris, sehingga memudahkan untuk go international.  Film ini juga baik ditonton karena tidak ada adegan romance berlebihan dan memiliki ide cerita yang tidak biasa. Film ini juga menjelaskan kepada penontonnya bahwa ada sebuah penyakit berbahaya yang merupakan gangguan psikologis dalam diri manusia yang menyebabkan penderitnya sangat mudah untuk membunuh dan menyiksa orang lain.
Namun, film ini juga masih memiliki banyak kekurangan. Diantaranya adalah eksekusi cerita yang kurang maksimal, penggunaan bahasa inggris yang terdengar kaku, temponya yang lambat sampai setengah film yang membuat penonton menjadi bosan serta pergerakan kamera yang diperkirakan akan membuat suasana tegang ternyata karena pergerakannya yang berlebihan justru membuat penonton menjadi sedikit pusing. Adegan-adegan detail yang sangat ceroboh, seperti adegan John muntah yang sangat terlihat nyata mengalir dari keran, bayangan kamera yang tertangkap kamera itu sendiri, serta alasan mengapa anak laki-lakinya harus membuka kaos motif garisnya sehingga dapat ditemukan oleh John sangat tidak jelas.

Namun, film ini masih sangat pantas ditonton karena ide ceritanya yang menarik, acting pemain yang dirasa cukup maksimal yang membuat film ini masuk jajaran film-film menarik, kreatif, inovatif, dan patut untuk mendapatkan penghargaan.

Minggu, 12 Oktober 2014

SALAHKAH? *original by Wardah

hai hai hai.... ini cerpen Wardah loh..... (eeaa...) 

Salahkah?

Aku juga bisa cemburu...
Aku juga ingin seperti mereka...
Sampai saat ini, hanya satu orang yang peduli denganku. Kurasa. Dan yang paling kucinta. Pasti. Entahlah, apa ini diperbolehkan. Tapi, memang hanya dia satu-satunya. Aza.
Sudah setahun lamanya, Aza sering menghabiskan waktunya bersamaku. Sudah setahun aku suka wajah ovalnya, rambut cepaknya, mata coklatnya, parfum yang dipakainya, tingkahnya, bahkan apa yang ia tuliskan di diarynya. Sudah setahun pula akau merasakan hal ini, cinta darinya. Atau mungkin cinta yang tumbuh karena keberadaannya. Sekali lagi kuungkapkan pertanyaan ini. Salahkah?

1 Agustus
Para panitia disibukkan oleh diadakannya MOS bagi siswa-siswi baru mulai hari ini. Seperti biasa, setiap istirahat seperti sekarang ini Aza masih disini bersamaku. Aku memperhatikan para siswa baru yang berlari-lari, push up, bending, serta melakukan hal-hal lain yang diperintahkan oleh senior mereka, teman-teman Aza sendiri. Ya, Aza yang sekarang sudah menginjak kelas 2 SMA ini memang tidak pernah mau menghabiskan waktunya untuk hal-hal seperti merasa senior di depan juniornya. Mungkin, memang dia lebih suka menghabiskan waktu luangnya disini, bersamaku.
J
8 Agustus
“Sa... Sasa...”. suara tiupun langsung seketika membuyarkan lamunan gadis cantik berkuit putih ini. Suara sepatu pemanggilnya pun terdengar berketuk-ketuk semakin mendekat di lantai koridor kelas. “Ternyata kamu di udah di kelas” ucap seorang gadis tinggi berwajah indo. Seperti dugaannya, memang tidak lain Alya lah pemilik suara itu.
“Kenapa sih Al, gangguin lamunan indah aku aja... paling-paling juga mau kasih penemuan senior ganteng lagi...”. Alya dan Sasa memang baru hari ini resmi memakai seragam putih abu-abu baru mereka. Namun, memang sudah jadi hobi baru Alya untuk menulusuri seluruh sudut kelas untuk melaksanakan misinya tersebut. Memburu senior ganteng.
“Tapi yang ini beda,Sa... dia itu cool tingkat dewa. Tinggi, manly, cowok banget deh pokoknya. Dan kamu nggak bakalan percaya kalo dia ini aku temuin di pohon kodondong samping kelas. Namanya  itu...”. belum selesai Alya berbicara, langsung dipotong oleh Sasa.
“Azhar Arsyadan, biasa dipanggil kak Aza, kelas XI IPA 2, rambutnya cepak ala-ala Jacob nyasar ke Indonesia, sukanya nongkrong di atas pohon kedondong samping kelas”. Alya hanya bisa terdiam dengan mata melotot menyadari kalau sahabatnya ini bahkan tahu lebih dulu darinya.
J
7 Agustus
Hari ini hari terakhir MOS. Inilah puncak dimana para siswa-siswi baru makin diuji fisik maupun mental mereka. Entahlah, mungkin itu yang dikataan paa panitia MOS kali ini. Namun, di hari ini juga aku merasa sangat kesal.
“Maaf, kak... kakak bisa turun sebentar nggak?”. Teriak salah seorang gadis yang aku tahu merupakan salah seorang dari peserta MOS. “Siapa lu? Panggil gue?” Sahut Aza sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke dirinya sendiri. “Iya, kak... Kakak yang disana nyuruh aku ngobrol sama Kakak, aku juga suruh minta foto” Balasnya. Aza pun mengusirnya dengan berbagai alasan. Nggak punya waktu lah, banyak urusan lah, untuk kembali duduk bersamaku. Setidaknya itulah yang kupikrkan.
Tapi ternyata gadis itu berhasil membujuk Aza untuk menghampirinya. Kuakui, gadis itu memang cantik dan supel. Tapi, kenapa Aza-ku harus menanggapinya?. Aku tidak ingin Aza punya teman orang lain selain aku.
J
8 Agustus
 “Ciee,,, yang mau pulang sama kak Aza, aku juga mau dong...”. rengek Alya. “dih, apa banget sih kamu” jawab Sasa singkat. Diapun langsung bersiap-siap untuk menaiki motor Kawasaki Ninja berwarna hijau yang semakin mendeka. Aza langsung menarik rem motornya dan membiarkan Sasa naik. Alya pun melambaikan tangannya ke Sasa dan langsung melesat dengan motornya sendiri. Sebelum Aza sampai menarik gas motornya Sasa bertanya.
“Kak Aza kok sering manjat pohon kedondog samping kelas sih... kak Aza juga suka kedondong kaya aku ya...”. tanya Sasa halus. “Ya enggak sih. Aku Cuma suka pohonnya, bukan buahnya. Asik aja buat baca buku,dengerin musik, ngapain aja deh”jelas Aza. Mereka pun langsung berlalu setelah itu.
J
Rasanya sakit melihat Aza pulang dengan orang lain. Apalagi seorang gadis. Belum lagi kejadian kemarin. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa berdiri disini memandangi kejadian itu. Aku takkan membiarkan ini berlangsung lama. Lihat saja!.

9 Agustus
Aku menjulurkan salah satu tanganku ke arah jendela kelas gadis itu. Berdasarkan yang kudengar kemarin ia sangat suka kedondong. Kujulurkan buah kedondongku yang paling besar dari ranting-rantingku.yah, berharap gadis itu akan memanjatku dan jatuh terpeleset atap asbes yang licin terkena air hujan pagi ini. Pasti untuk mencapai buah kedondongku dia akan menginjak atap asbes licin itu. Dan aku tahu pasti atap asbes itu sudah tua dan takkan cukup kuat untuk menahan berat badannya. Hihi, semoga saja rencanaku berjalan lancar.
“Eh, kedondongnya udah berbuah, jadi pengen. Tapi gimana ngambilnya, ya?”teriak gadis itu bersemangat. Kulihat dia sangat tertarik. Pasti rencanaku berhasil. Ayo, panjat aku, dan kau akan terjatuh. Teriak hatiku gembira.
Tapi, aku merasakan sesuatu merayapi tubuhku. Gadis itu masih berdiri disana, lalu siapa ini. Siapa yang memanjatiku sekarang. Tidak mungkin. Tidak mungkin. ”Aaaaaaarrghhh.........”.
J
“Kalo aku ambilin kedondong yang gede di pohon tempat nongkrong aku itu, pasti Sasa seneng, deh...”gumam Aza bersemangat. Akhirnya, dia pun memutuskan menuju ke pohon tersebut untuk mengambilkan kedondong untuk Sasa. Aza sudah ratusan bahkan ribuan kali memanjat pohon kedonodng ini. Bagaimana tidak, setiap waktu luangnya ia habiskan dengan duduk diatas pohon ini.
Aza pun memanjat pohon kedondong tersebut, lalu menginjak atap asbes yang ternyata sangat licin sehingga Aza terpeleset dan
“Aaaaaaaaaarggghh”. Aza pun terjatuh lalu disusul dengan darah segar yang mengucur dari kepalanya yang terbentur.
J
“Mama, Kakak, dedek pulang.....”. Suara itupun seketika memenuhi seisi rumah yang adinya senyap. “Sa, kamu anterin makan ke kamar Kakak, ya...”perintah Mama. Sasa pun dengan sigap mengambil nampan makanan dari tangan Mama dan langsung menuju kamar Kakak tercintanya.
“Kakak, inimakan siangnya. Oh ya, tadi dapet salam dari Alya. Termen aku yang disuruh ngobrol sama Kakak waktu MOS ituloh...”terang Sasa. “Kakak nggak apa-apa, kan?”lanjut Sasa lirih saat melihat setitik ai mata mengalir di pelupuk mata kakaknya.
Aza pun hanya tersenyum dan bergumam lirih, “Aku lumpuh”.
J
Aza, apa yang telah kuperbuat. Aku sama sekali tak membuatmu menjadi kembali dekat dan semakin dekat denganku. Apa yang kulakukan sangatlah bodoh. Sekali lagi kukatakan padamu, aku tak membuat Aza-ku kembali dekat dan semakin dekat denganku. Aku hanya membuatnya kembali jauh dan semakin jauh dariku. Saking jauhnya, apalah menghabiskan waktu denganku, melirikku pun kujamin Aza takkan sudi.